[FF//YAOI//Ficlet—ChanBaek] On The Train

by ryulnana

on-the-train-cover

Author            : ryulnana; nanasabila

Title                 : On The Train

Genre              : Romance, Fluff, Tragedy, Boys Love, Yaoi.

Rating             : NC21 T+

Length            : Ficlet

Cast(s)            : Byun Baekhyun, Park Chanyeol.

Note                :

The fanfiction is belong to me. The plots was appeared on my mind. The abdsurd poster too, made by me. The casts aren’t mine. Hopefully can be mine. Lets pray! m(_ _)m

 

Hee-ya! Nice to meet you! Hahaha. Sebuah sapaan manis di D-53 menuju UN. Gilanya, aku masih bisa menulis santai begini di hari-hari menjelang UN. Alhamdulillah, mau curhat sedikit ini FF diselesaikan dalam waktu dua jam (Lama banget ye?). Ya, setidaknya awalnya sudah dibuat beberapa minggu lalu, cuma hari ini diubah semuanya seratus persen berdasarkan pengalaman (bohong).

 

So, mau baca? Baca bismillah dulu bagi yang muslim ya? Jangan lupa pastikan jarak gadget 30cm di hadapan mata okay? Etdah lama bet.

So, enjoy reading!

Don’t Like? Don’t Read! Get Out Please!

ChanBaek’s Story.

***

 

Tes. Tes. Tes.

 

Suara rintik hujan itu semakin membesar, disusul bertambah derasnya rintik hujan sore itu. Namja manis berbalut jaket tebal itu nampak melindungi dirinya dari tetesan air hujan itu. Tas yang dia bawa dia pakai untuk melindungi kepalanya, walaupun sia-sia karena tetap saja basah.

 

Namja itu berlari melewati hujan, dia tidak biasa membawa payung karena kekasihnya biasa menjemputnya setelah selesai kuliah. Hanya saja, sekarang berbeda.

 

NGEEEEEENG!

 

Suara bising dari kereta api bawah tanah yang melintas itu menghentikan namja manis tadi dari aktifitas mengatur nafasnya.

 

 

Telat lagi.

 

 

Kereta yang membawanya ke stasiun berikutnya yang merupakan tujuan namja manis itu sudah berangkat lebih dulu. Dan dengan terpaksa, dia menunggu lima belas menit untuk kereta berikutnya.

 

Stasiun tidak begitu ramai hari ini. Hal itu membuat suasana di stasiun sedikit dingin karena kurangnya keramaian berlalulalang. Namja itu menggosokan kedua tangannya mencari kehangatan sendiri. Padahal, biasanya disaat seperti ini kekasihnya akan datang dan langsung memeluknya lembut.

 

NGEEEEEENG!

 

Kereta tujuannya sudah sampai. Namja manis yang tadi kedinginan itu dengan sigap masuk ke dalam kereta dan mendapatkan kereta cukup sepi hari ini.

 

Banyak kursi kosong disana. Kursi panjang itu nampaknya cukup untuk menghangatkan dirinya karena cukup banyak yang mendudukinya. Dan diputuskanlah namja manis itu untuk duduk disana, disamping seorang pria paruh baya.

 

Namja manis itu kemudian mengeluarkan catatan kecil dari tasnya. Sebuah catatan dengan lembar pertama bertuliskan ‘변백현’.

 

 

Namanya Byun Baekhyun.

 

Namja manis itu.

 

 

Perjalanannya diisi dengan menuliskan beberapa lirik lagu dan sesekali menatap sekitarnya mencari inspirasi. Tatapannya tertuju kepada namja yang duduk tak jauh disampingnya. Hanya terhalang oleh pria paruh baya disampingnya.

 

Tatapannya menunduk, rambutnya cokelat brunette nampak berantakan. Kulitnya putih tirus, hidungnya mancung. Itulah yang Baekhyun dapat simpulkan dari namja yang duduk tak jauh darinya itu. Namja itu nampak sedang membaca sebuah buku dengan headphone putih yang menutupi telinganya.

 

 

OOPS!

 

 

Namja yang sedang Baekhyun perhatikan itu berbalik menatapnya. Merasa diperhatikan oleh Baekhyun yang tak lepas pandangan barang sedetik saja dari namja tampan itu. Baekhyun salah tingkah dan buru-buru mengalihkan pandanganya pada hal disekitarnya.

 

Namun, namja tampan tadi malah tersenyum tipis.

 

Ya, sangat tipis.

 

Sedetik kemudian namja tampan itu fokus lagi pada bukunya. Sesekali namja itu juga memperhatikan Baekhyun diam-diam. Dia buru-buru mengalihkan arah pandangan yang semula ke arah Baekhyun jadi memandang sekitar saat Baekhyun menatapnya kembali.

 

Dan hal itu terjadi begitu lama. Saling menatap satu sama lain kemudian tersenyum tipis dalam angannya masing-masing.

***

 

Perhentian berikutnya sudah tiba. Baekhyun berjalan meninggalkan kereta dan juga namja jangkung yang sedari menatapnya itu. Tanpa satu katapun.

 

Namja jangkung itu memperhatikan kepergian Baekhyun, menatap punggung namja mungil itu yang lama kelamaan semakin mengecil. Namja itu kemudian menghembuskan nafas, entah merasa kecewa atau lega.

 

Namja itu lalu menyusul penumpang terakhir yang turun di stasiun itu. Dia keluar dari kereta lalu tidak berniat mencari namja mungil yang sedari tadi hanya saling bertatapan malu di dalam kereta. Namja itu berjalan ke tembok dan bersender disana.

 

Dia kemudian menutup buku yang sebenarnya tidak pernah ia baca barang sekatapun. Tidak menutup sepenuhnya, hingga sebuah kata terlihat dari lembar pertama buku tersebut.

 

 

Park Chanyeol.

 

 

Namja tampan dan jangkung itu…

 

 

…namanya Park Chanyeol.

.: œ  š› œ  š› œ  š› :.

 

Baekhyun datang lagi ke stasiun kereta bawah tanah. Niat sesungguhnya benar-benar untuk pulang ke rumah. Hanya saja, dia cukup penasaran dengan namja tampan yang duduk tidak jauh darinya kemarin itu.

 

‘Apakah dia akan datang?’ Batin Baekhyun.

 

Baekhyun masuk dan menemukan semua kursi nyaris tidak ada yang kosong. Tumben sekali. Mungkin karena menjelang malam dan para pegawai sudah selesai bekerja. Jadi, Baekhyun terpaksa harus berdiri dan memberikan kursinya pada seorang wanita tua yang datang bersamanya.

 

Baekhyun berdiri, memegang pegangan yang cukup jauh di atas kepalanya. Setelahnya, keretapun berjalan dan Baekhyun nampak kesulitan dengan posisi itu. Pasalnya, dia satu-satunya yang berdiri disana. Baekhyun melihat ke sekitar, berharap menemukan namja yang belum dia ketahui namanya itu, alias Chanyeol.

 

Tepat disana. Chanyeol sedang duduk sambil mengalihkan pandangan ke arah lain setelah Baekhyun meliriknya. Dia duduk di tempat yang sama seperti kemarin.

 

Kemudian Chanyeol bangkit dan meraih pegangan yang tak jauh di atas kepalanya. Menemani Baekhyun untuk berdiri bersama. Tempatnya tidak terlalu jauh dengan tempat Baekhyun berdiri. Dan mereka berdiri, saling membelakangi.

 

Hal itu membuat wajah Baekhyun merona merah. Dia menundukan kepalanya sambil sesekali tersenyum tipis. Chanyeol melihat ekspresi wajah Baekhyun dari kaca kereta. Bayangannya terbentuk jelas karena sekitar lorong cukup gelap dan Bekhyun tidak menyadari hal itu.

 

Chanyeol menatap arah lain, dan kemudian dia melakukan hal yang sama. Tersenyum kecil memikirkan hal yang dilakukannya sekarang. Chanyeol sendiri heran, untuk apa menemani orang yang tidak dikenalnya?

 

Ekspresi Chanyeol juga tertangkap oleh Baekhyun. Walaupun kecil namun Baekhyun merasa namja di belakangnya ini juga tersenyum. Dan itu malah membuat Baekhyun merona lebih.

.: œ  š› œ  š› œ  š› :.

 

Baekhyun terlambat lagi. Akhir-akhir ini dia menaiki kereta bawah tanah karena kekasihnya tidak bisa menjemput setelah bubaran kuliah. Dan imbasnya terkena pada Baekhyun karena dia harus menunggu kereta berikutnya datang.

 

Keadaan kereta cukup ramai, entah karena apa. Sangat-sangat ramai. Penumpangnya begitu banyak dan saling berdesakan satu sama lain. Baekhyun berdiri setelah ia rasa mendapat tempat yang cukup untuknya.

 

Disampingnya ada seorang Ahjussi yang memandangnya, dan perasaan Baekhyun berkata ini tidak baik. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari kontak mata dengan Ahjussi itu. Ahjussi itu semakin mendekati Baekhyun dan sedetik kemudian seseorang menggenggam tangannya kuat.

 

Tangan itu menarik Baekhyun cukup kuat sampai membuat Baekhyun berpindah dari tempatnya semula. Dan orang yang menariknya itu..

 

 

..Chanyeol.

 

 

Namja jangkung yang beberapa hari ini selalu ia temui setiap akan pulang ke rumahnya. Namja jangkung yang menyita perhatiannya. Dan, sampai sekarang ia tak saling berbicara satu sama lain.

 

Chanyeol menarik Baekhyun kehadapannya. Dan perbedaan tinggi mencolok itu membuat Baekhyun menengadah untuk melihat sosok yang menariknya menjauhi Ahjussi itu. Namja mungil itu hanya sebatas bahu namja jangkung bernama Chanyeol itu.

 

“Tadi dia hampir mengambil dompetmu.” Ujar Chanyeol.

 

Suaranya berat tidak seperti wajahnya yang lembut. Baekhyun nyaris tertawa mendengar ucapan pertama yang di dengarnya dari namja ini. Namun, dia buru-buru menunduk merasa malu.

 

“Gomawo.” Balas Baekhyun.

 

Dan keduanya tetap dalam keadaan seperti itu. Orang-orang berdesakan di dalam kereta, dan tak mampu menampung penumpang lagi. Hal itu juga terjadi antara Baekhyun yang berdiri tepat di hadapan Chanyeol. Sesekali Chanyeol terdorong dan nyaris menghimpit tubuh mungil Baekhyun.

 

Sejujurnya, Baekhyun ingin berbalik saja. Namun, keadaan yang super sempit dan berdesakan ini tidak membiarkanya berbalik sedetik saja. Setidaknya agar terhindar dari deru nafas Chanyeol yang terasa di puncak kepalanya. Deru nafas hangat yang membuat jantungnya berpacu lebih cepat.

 

Sesekali Baekhyun bertanya pada dirinya. Kenapa namja jangkung ini tiba-tiba menariknya dari kerumunan? Menghindarkan dirinya dari penjahat-penjahat di sekitar sini? Melindunginya dari desakan di kereta ini?

 

Namun, pertanyaan itu belum sempat terbalas karena stasiun tujuan Baekhyun sudah di depan mata. Beberapa orang keluar tidak sabar dan Chanyeol masih bersamanya. Memperhatikannya.

 

Namja itu turun bersamanya. Begitupun saat menaiki tangga dan meninggalkan stasiun. Mereka bersama walau terpisah jarak sekian meter. Baekhyun dan Chanyeol merasa canggung satu sama lain. Namun saat sampai di ujung anak tangga, mereka bertolak arah. Baekhyun menuju rumahnya dan mengambil arah ke kanan, sementara Chanyeol menuju tujuannya ke arah kiri.

 

Sesekali Baekhyun menatap punggung namja yang menjauhinya itu. Chanyeolpun melakukan hal yang sama. Seakan perasaan mereka terasa seperti saling memiliki dan saling mempunyai suatu ikatan batin.

.: œ  š› œ  š› œ  š› :.

 

Seoul sedang senang-senangnya mendatangkan hujan beberapa hari ini. Begitupun dengan hari ini. Hujannya baru gerimis, namun sepertinya akan cukup deras ditambah langitpun nampak begitu mendung.

 

Namja itu berlari menghindari hujan secepat yang ia bisa, walaupun nyatanya sia-sia karena tetap saja, seluruh pakaian dan tubuhnya basah. Ia nyaris menyerah, tidak kuat lagi menahan dingin. Ditambah dia tidak kuat berlari lama-lama.

 

Namun, sebuah payung tiba-tiba berada di atasnya. Dan wajah sang pemilik nampak menampilkan senyumannya. Payung itu milik..

 

 

..Chanyeol.

 

 

“Tidak baik hujan seperti ini, justru lebih berbahaya dari hujan deras.” Ujar Chanyeol.

 

“Ah, g-gomawo.” Balas Baekhyun lagi.

 

“Peganglah.”

 

Chanyeol memberikan payungnya kepada Baekhyun, kemudian melepas jaketnya. Dia lalu mengambil kembali payungnya, dan menjulurkan jaketnya pada Baekhyun.

 

“Pakailah, kau pasti kedinginan.”

 

Baekhyun tidak kuat menahan dingin disekitarnya, diapun berterimakasih dan lekas memakai jaket tebal yang Chanyeol berikan padanya.

 

“Kau menuju stasiun?” Tanya Chanyeol.

 

“Ne. Kau juga?” Baekhyun balik bertanya.

 

“Ne. Kalau begitu, kita bisa pergi bersama.” Ajak Chanyeol kemudian Baekhyun mengikutinya.

***

 

 

Baekhyun kali ini duduk tepat di samping Chanyeol. Namja jangkung yang menyita perhatiannya belakangan ini. Chanyeol orang yang hangat, walaupun hari ini adalah pertama kalinya Baekhyun dan Chanyeol mengobrol sepanjang itu, Baekhyun merasa Chanyeol sangat-sangatlah hangat, ramah dan baik. Saat Chanyeol membantu Baekhyun ditengah hujan tadi.

 

“Eumm, maaf. Kita sering bertemu tapi kita tidak pernah berkenalan sama sekali selama ini.” Ujar Baekhyun.

 

“Ah iya, kau benar. Namaku, Park Chanyeol.” Balas Chanyeol sambil mengulurkan tangannya.

 

“A-aku, Byun Baekhyun.” Baekhyun menjawab gugup sabil membalas uluran tangan Chanyeol.

 

Setelah itu, tidak ada obrolan lagi. Dua orang namja itu saling diam satu sama lain, sampai akhirnya sampai di stasiun tujuan mereka.

 

Baekhyun dan Chanyeol masih saling berjalan berdampingan. Mereka melihat keadaan sekitar begitu sampai di ujung anak tangga.

 

 

Hujan.

 

 

Hujan deras.

 

 

“Rumahmu dimana, Baekhyun-ssi?” Tanya Chanyeol.

 

“Tidak terlalu jauh, hanya saja aku harus ke halte agar sampai.” Jawab Baekhyun.

 

“Halte? Itu cukup jauh, Baekhyun-ssi. Rumahku tidak terlalu jauh dari sini. Mungkin kau mau menunggu hujan di rumahku?”

 

“M-mwo?”

 

“Ah, tidak apa-apa kalau tidak mau. Aku akan mengantarmu sampai halte kalau begitu.”

 

“A-aniya. A-aku tidak keberatan, lagipula hujan cukup deras.”

 

“Arraseo! Tapi, kita harus berlari ne?”

 

Baekhyun mengangguk. Dan setelah Chanyeol mengembangkan payungnya, mereka berlari buru-buru dari stasiun. Menuju ke apartement Chanyeol tidak begitu jauh dari stasiun kereta bawah tanah.

***

 

“Maaf tidak ada pakaian lagi.” Ujar Chanyeol.

 

Hari semakin larut dan kini mereka tengah duduk di sofa panjang di dalam apartement Chanyeol yang cukup luas itu. Baekhyun memakai kemeja panjang dan memakai celana Chanyeol yang kebesaran.

 

“Gwaenchanah, asalkan aku tidak kedinginan.”

 

 

Hening lagi.

 

 

Baekhyun dan Chanyeol nampak masih canggung satu sama lain. Entah karena memang mereka belum kenal atau karena mereka hanya berdua saja disini. Mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Chanyeol dengan coffeenya dan Baekhyun yang menghangatkan dirinya dengan memegang cangkir susu.

 

Chanyeol yang semula duduk cukup jauh, menggeser tempat duduknya mendekati Baekhyun. Namja manis itu terkejut, mengernyitkan dahinya heran.

 

“K-kau kenapa Chanyeol-ssi?” tanya Baekhyun gugup.

 

“Entahlah, kau nampaknya begitu kedinginan.”

 

“…aku ingin menghangatkanmu.” Lanjut Chanyeol.

 

“N-ne?”

 

Baekhyun kebingungan. Sedetik kemudian, bibir tipis itu memerah dari warna pucatnya. Chanyeol merengkuh tubuh mungil namja itu. Menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Baekhyun.

 

Menyesapnya… menyesap aroma mewangi tubuh namja manis di dekapannya itu. Kadang, mencium  perpotongan leher Baekhyun lembut. Mengecup lembut titik sensitif namja itu.

 

Baekhyun melenguh. “Nnnh.. Chan –yeol-ssi.”

 

Namja jangkung itu tak mengindahkan gumaman penolakan Baekhyun yang manis itu. Suara lembutnya bagaikan nyanyian merdu yang tak pernah didengarnya. Saat Baekhyun mencoba menolak, tangan kekar Chanyeol menggenggam tangan kecil namja itu.

 

“Kau percaya padaku?”

 

“Apa.. kau mengizinkanku untuk melakukannya?”

 

Baekhyun diam, air matanya nyaris jatuh. “…n-ne.”

 

Ucapan Baekhyun yang terakhir itu, membuat Chanyeol merasa diberi lampu hijau. Namja itupun melanjutkan pekerjaannya yang terhenti tadi. Dimulai dari ciuman lembut dua pasang bibir antara sepasang makhluk yang tengah dilanda cinta itu.

 

Tangan Chanyeol membantu Baekhyun bersandar nyaman di sofanya. Dan mereka berciuman lagi. Pakaian Baekhyun yang nampak kebesaran itu kini mulai berantakan, begitu pula surai cokelatnya. Sementara Chanyeol tak henti-hentinya menyumbu namja mungil itu.

 

Mereka begitu sampai akhirnya Chanyeol menggendong Baekhyun ala pengantin baru, bridal style itu istilahnya –tanpa–menghentikan–ciuman–barang–sedetikpun–. Langkah panjang itu sampai di depan pintu kamarnya, kamar Chanyeol. Mendobrak pintu kayu itu dan menutupnya rapat-rapat kembali.

 

 

BRUUK!

 

 

Suara dentuman benda itu terdengar begitu nyaring. Dan disusul suara kecupan-kecupan manis; sentuhan-sentuhan hangat; cumbuan-cumbuan mebabukan dan apapun itu menggema di ruangan yang diluar masih saja hujan.

 

 

Hal selanjutnya, siapa yang dapat menebak?

 

 

Siapa yang dapat menebak pikiran dua insan manusia yang tengah dilanda cinta itu?

 

 

Semuanya pasti memikirkan hal yang sama. Pemikiran yang sama dengan apa yang berputar di dalam otak setiap manusia yang kelabu ini.

.: œ  š› œ  š› œ  š› :.

 

 

Matahari nampak menggantikan bulan dari singgasananya. Sinar itu begitu hangat menyambut hari yang baru. Burung-burung berkicau begitu merdu. Keadaan kota sudah terlihat ramai.

 

“Nnngghh…” Suara lenguhan Baekhyun.

 

Namja manis itu nampak –sangat–sangat– berantakan. Matanya masih terpejam, tubuh polosnya tertutupi selimut hangat berwarna dark sea green. Ruangan itupun terisi dengan beberapa helai pakaian yang juga sama-sama berantakan.

 

“Whoaaaammh.”

 

Baekhyun menguap. Merenganggkan tubuhnya yang cukup lelah semalam. Matanya mengedip beberapa kali membiasakan diri dengan bias cahaya pagi yang muncul dari jendela kamar Chanyeol.

 

Ah, benar. Namja itu dan Chanyeol melakukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Terlebih mereka baru berkenalan di Halte kemarin sore. Baru saja kemarin. Semuanya, terjadi sangat cepat.

 

Dan.. berbicara tentang namja jangkung itu dimana dia sekarang?

 

Baekhyun nampaknya punya pertanyaan yang sama. Dia turun dari ranjang kemudian, mengambil pakaian dalam dan bajunya. Jalannya menuju pintu sedikit terhambat karena pinggulnya terasa ngilu. Efek semalaman bermain mungkin.

 

“Chanyeol-ssi….” Panggil Baekhyun pelan.

 

Tidak ada sahutan. Chanyeol bisa berada dimana saja sekarang, ini apartementnya dan Baekhyun tidak mengerti kondisi ruangan ini.

 

“Kau sudah bangun, Baekhyun-ssi?” tanya suara berat itu.

 

Suara Chanyeol yang datang dari arah dapur. Menuangkan susu ke dalam gelas berukuran tinggi di hadapannya. Nampaknya menu sarapan paginya, karena ada dua lembar roti tawar di sampingnya.

 

“N-ne.. kau sudah sarapan Chanyeol-ssi?”

 

“Aku sudah tadi. Kau makanlah dulu, pasti… sangat lelah.”

 

Baekhyun mengernyit. “G-gomawo.”

 

Dan Baekhyunpun berjalan menuju pantry kecil Chanyeol, lalu duduk diatas kursi tingginya. Chanyeol sudah nampak rapi dengan kaos oblong putihnya itu. Terlihat begitu tampan di mata namja bernama Baekhyun.

 

Baekhyun mengunyah gigitan keempatnya itu, kemudian meminum habis susu putih segarnya.

 

“Eummm. Gomawo Chanyeol-ssi.”

 

Chanyeol mengangguk. “Tidak dihabiskan rotinya?”

 

“Aniya. Aku sudah kenyang, boleh kau ambilkan itu saja?” tanya Baekhyun sambil menujuk keranjang buah.

 

“Kau mau sepotong apel, Baekhyun-ssi?”

 

Baekhyun mengangguk semangat sambil tersenyum malu-malu. “Biarku potongkan untukmu.”

 

Chanyeol tersenyum dan mengambil pisau serta sebuah apel hijau yang menggoda dibelakangnya. Dengan senang hati Baekhyun menerima apel itu dan segera membelahnya.

 

 

PRAK!

 

 

Potongan pertama. Berhasil.

 

 

PRAK!

 

 

Potongan kedua. Sukses.

 

PRAK!

 

 

“Aww!” rintihan itu keluar dari mulut Baekhyun.

 

Potongan ketiganya, sudah jelas gagal. Jarinya teriris pisau dan mengeluarkan darah segar. Chanyeol tak ambil susah, diraihnya telunjuk Baekhyun dan diemutnya telunjuk itu. Mencoba untuk menghentikan darah itu terus mengalir.

 

“Kau baik-baik saja Baekhyun-ssi?” tanya Chanyeol.

 

“C-cukup perih, Chanyeol-ssi.” Balas Baekhyun ragu.

 

Dan namja jangkung itu kembali mengemut jari telunjuk namja manis itu.

 

“Chanyeol-ssi… apa kau punya kekasih?” tanya Baekhyun tiba-tiba.

 

“Ya?” Chanyeol nampak kebingungan. “Aku punya kekasih.. kau sendiri?”

 

Mata Baekhyun melebar kemudian berubah menjadi senyuman –yang–sulit–diartikan–.

 

“Aku.. juga punya kekasih.” Jawabnya lantang.

 

Chanyeol nampak melirik. “Itu bagus.”

 

 

Hening lagi.

 

 

Chanyeol masih senang mengemut darah Baekhyun yang belum berhenti sejak tadi ­–lalu–membuangnya–ke–wastafel–. Sedangkan Baekhyun, senyam-senyum saja dengan perlakuan namja tampan ini.

 

“Apa kekasihmu tidak apa-apa kau membawaku kemari?” tanya Baekhyun lagi.

 

Chanyeol menatap Baekhyun. “Apa kekasihmu baik-baik saja aku membawamu kemari?”

 

“Kau menawarkanku untuk datang.” Balas Baekhyun.

 

“Kau tidak menolak tawaranku.” Tanggap Chanyeol dan menghentikan aktvitasnya.

 

Mereka kemudian saling diam lagi. Berdiam diri pada kegiatannya masing-masing. Chanyeol memakan potongan apel, dan Baekhyun kembali memotong apel itu lebih hati-hati.

 

Namun tiba-tiba tangan kekar Chanyeol memeluk perut Baekhyun dari belakang. Memeluknya sangat erat. Wajahnya ditenggelamkan di perpotongan leher dan pundak Bakehyun yang wangi itu. Menyesap aroma wangi Baekhyun yang memabukan. Aroma yang sama.

 

 

“Aku gak kuat.” Ujar Chanyeol.

 

 

 

“Aku gak kuat lagi Baekkie!” Lanjutnya.

 

Kemudian Baekhyun tertawa cekikikan. Sambil mengelus lembut tangan milik namja yang tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan manis seperti ‘Baekkie’ itu.

 

“Kamu kalah Chanyeolie!” seru Baekhyun.

 

Kalah? Siapa yang menang?

 

Tunggu.

 

Sebenarnya ada apa ini? Ada apa dengan sebutan manis ‘Chanyeolie’ dan ‘Baekkie’ itu? Nampak seperti sebutan seorang terkasih bukan?

Baekhyun memutar tubuhnya dan mendapati Chanyeol yang merengek kesal dihadapannya. Dia menggapai pipi namja itu lalu mencium bibirnya pelan.

 

“Aku gak bisa gak menyentuhmu sehari saja. Aku stress.” Ujar Channyeol.

 

“Kau berlebihan, Chanyeolie. Buktinya, kita lewatkan seminggu ini tidak bersama-sama.”

 

“Pokoknya, aku gak mau main seperti ini lagi. Aku benar-benar gak suka!”

 

“Kekekeke.”

 

“Bahasa formal, pura-pura tidak saling mengenal, pura-pura punya kekasih lain. Aku gak mau lagi!” Seru Chanyeol.

 

“Ne, ne! Aku juga tidak suka permainan kayak ini, membosankan.” Tanggap Baekhyun.

 

“Aku senang bersama Baekkie seperti ini. Aku senang. Dan aku tidak mau seperti kemarin-kemarin, Baekhyun-ssi? Kamu ini ahjussi-ahjussi, eo?” Ucap Chanyeol.

 

“Pokoknya, walau kita bertemu terus tiap hari. Rasa cintaku pada Baekhyun tidak akan pudar sepersenpun.” Lanjutnya.

 

“Aku senang Chanyeol begitu. Lebih dewasa dan memerhatikan aku, melindungi aku, seperti di kereta tempo lalu. Chanyeol dewasa dan baik sekali. Aku suka. Kau terlihat lebih tampan.”

 

“Aku kan memang selalu tampan.”

 

“Ish. Kau juga pulang naik kereta bawah tanah, Chanyeolie? Kenapa tidak bawa motor seminggu ini?”

 

“Aku khawatir. Kalau kita melakukan kesepakatan untuk rehat bercinta dulu, Baekkie pasti pulang-pergi naik kereta kan? Baekkie bilang aku tidak boleh jemput atau antar.”

 

Baekhyun mengangguk.

 

“Makannya, aku juga memutuskan naik kereta saja seminggu ini. Memastikan kau baik-baik saja.”

 

Baekhyun tersenyum senang. Lalu mencium kilat Chanyeol, lagi.

 

“Kekasihmu itu, siapa yang kau pikirkan?” Tanya Chanyeol.

 

“Tentu saja kau! Memangnya siapa lagi?” Balas Baekhyun.

 

Chanyeol cekikikan.

 

“Jadi… kesepakatan kita berakhir sampai hari ini, Chanyeolie?”

 

Chanyeol mengangguk semangat. “Pokoknya jangan bermain seperti ini lagi. Aku gak suka!”

 

“Tapi, katanyakan kalau terlalu sering bertemu nanti yang ada cepat bosan. Seperti kita berdua bertemu terus, kan?”

 

Chanyeol menggeleng. “Ani, ani! Tidak ada lagi kesepakatan bodoh seperti ini. Aku stress!”

 

Dan mereka berduapun tertawa bersama. Berpelukan satu sama lain menyalurkan kehangatan di pagi itu. Memulai hari yang baru dengan kesepakatan yang lalu telah hangus. Memulai hari menjadi sepasang kekasih lagi.

 

Semuanya pasti bertanya-tanya. Ada apa ini sebenarnya? Begitu bukan? Baiklah, biar kuceritakan awal permasalahannya.

***

 

Miracle Park, Seoul.

 

At 9.00 AM.

 

 

“Hyung~ Aku merindukanmuuuu!” ujar namja jangkung di arah jam 12.

 

“Nado, Sehunie! Aku senang bisa bertemu denganmu lagi.” Jawab namja manis di dekapan namja jangkung itu.

 

“Sudah lama sekali sejak kedatanganmu di Seoul, Luhanie. Bagaimana kuliahmu di China, sayangku?”

 

“Kekeke. Sehunie bisa saja. Aku belajar dengan giat agar cepat-cepat lulus dan menetap di Korea denganmu nanti.”

 

“Impian yang manis sekali. Hahaha. Aku harap, Luhanie cepat lulus biar bisa tinggal denganku di Seoul.”

 

Baekhyun menumpu dagu di kedua telapak tangannya. Matanya tak berhenti memperhatikan dua makhluk tuhan yang saling merindu itu. Seorang namja Korea bernama Sehun tadi, dan juga namja manis dari China bernama Luhan.

 

“Chanyeolie.. coba lihat deh mereka. Maniiiiis~ sekali.”

 

“Mereka? Siapa?” Tanya Chanyeol yang tengah menjilati eskrim pisangnya itu.

 

“Arah jam 12.” Balas Baekhyun. “Aku iri sekali.”

Chanyeol mendapati arah pandangan Baekhyun. “Oh.”

 

Baekhyun melirik sinis. “Kok hanya ‘Oh’. Dasar babo, menyebalkan!”

 

“M-mwoya! Siapa yang babo, lantas aku harus bagaimana?”

 

Lantas aku harus bagaimana? Hanya itu yang kau ucapkan! Coba berpikir tiang!” Baekhyun mengulang ucapan Chanyeol.

 

“Ish! Berhenti menghinaku, kurcaci pendek, jelek!”

 

“Kau bilang apa?! DASAR TIANG BABO MENYEBALKAN!”

 

“KURCACI PENDEK! JELEK! HAH KAU MAU MENGAMBIL ESKRIMMU? INI ESKRIMMU!”

 

Chanyeol yang kebetulan baru saja membeli Ice Cone rasa Pisang dan Strawberry yang merupakan kesukaan Baekhyun itu menarik tangannya menjauh Baekhyun. Menjauhkan es krim strawberry itu dari sang kekasih.

 

“Ya! Park Chanyeol! Berikan es krimku!”

 

Baekhyun nampak melompat-lompat berusaha mengambil es krim itu. Namun, entah karena lelah atau menyerah namja itu duduk kembali ditempatnya. Dan Chanyeol malah keheranan.

 

“Kau kenapa Baekkie?” Tanya Chanyeol.

 

“Benar kata orang.” Balas Baekhyun misterius.

 

“Benar apanya?” Chanyeol ikut duduk di samping Baekhyun.

 

“Kita terlalu sering bersama, jadi seperti ini. Bertengkar karena hal sepele, meledek satu sama lain, mungkin… kita sudah bosan satu sama lain.” Jawab Baekhyun.

 

“MWOYAAAA! INI ESKRIMMU! AMBIL SAJA! T-tapi Baekkie, aku gak mau putus! Aku pokoknya gak mau putus!” seru Chanyeol cepat-cepat.

 

Baekhyun mengernyit heran. “Chanyeolie diam! Kau berisik!” seru Baekhyun.

 

“Siapa yang mau putus denganmu?! Kau ini berpikiran buruk terus!”

 

“Lalu.. lalu kenapa Baekkie berkata seperti itu? Baekkie tidak putus dengan Chanyeol karena masalah sepele tadi kan? Tidak kan?”

 

“Aniya! Aku tidak akan putus dengan Chanyeol. Hanya saja, ayo kita buat kesepakatan. Mau tidak?”

 

“K-kesepakatan a-apa?”

 

“Untuk tidak saling mengenal untuk beberapa hari kedepan.”

 

“ANIYAAA! ITU TIDAK MUNGKIN!”

 

“KITA HARUS BEGITU BIAR HUBUNGAN INI LANCAR TERUS, CHANYEOLIE!”

 

“GAAAAK MAAAUUU!”

 

“IHHH… TUH KAN!”

 

Baekhyunpun menggebrak meja. Dan Chanyeol tenang lagi.

 

“Oke, kita suit saja. Pokoknya kalau aku menang, kita penuhi kesepakatan ini. Arrasseo?”

 

Chanyeol nampak ragu, hanya mengangguk kecil.

 

“Setuju tidak?”

 

“N-ne….”

 

“Arrasseo! Kita mulai! Hana-dul-set!”

 

“Hana-dul-set!”

 

Dan mereka bermain suit sampai tiga kali. Berakhir dengan Baekhyun yang memenangkan suit, dan Chanyeol terpaksa harus menerimanya. Menerima hukuman untuk tidak saling mengenal selama seminggu ke depan.

 

 

 THE END  

 

PUAHAHAHAHAHAHA. WHAT KIND OF FANFIC THIS IS?

 

Dari awal sudah gak jelas sekali, terlalu menitik beratkan sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat dan orang ketiga serba tahu. Hahaha. Tumben, nyoba-nyobalah disela-sela waktu luang. Walaupun absurd to the max, bai-de-wei aku gak akan tahu ini FF bagus, atau dibawah standar kemiskinan (?) kalau gak ada yang komen.

So, mind to review guys? Thank you before! ^^